KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Share Button

KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

By : Nur Yuliasih, S.Si., Apt

Sel adalah unit fungsi dasar dari tubuh manusia. Agar sel tubuh dapat melakukan tugas fisiologisnya, diperlukan lingkungan yang stabil, termasuk pemeliharaan suplai nutrien yang mantap dan pembuangan sisa metabolisme secara kontinu.

Komposisi cairan tubuh:

1. Air

Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Pada pria dewasa kira-kira hampir 60% dan pada wanita sekitar 55% dari berat badannya.

keseimbangan cairan dan elektrolit

keseimbangan cairan dan elektrolit

Faktor-faktor yang mempengaruhi air tubuh :
a. Sel-sel lemak : peningkatan lemak tubuh menyebabkan jumlah air dalam tubuh sedikit.
b. Usia
Air tubuh menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi prematur, komposisi airnya sekitar 80% dari berat badannya.
c. Jenis kelamin
Wanita mempunyai air tubuh yang kurang proporsional, karena lebih banyak mengandung lemak tubuh.

2. Solute (zat terlarut)

Cairan tubuh juga mengandung dua jenis substansi terlarut yaitu : elektrolit dan non-elektrolit.

a. Elektrolit
Substansi yang berdisosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Kation adalah ion-ion yang membentuj muatan positif dalam larutan. Kation ekstraseluler utama adalah natrium (Na +) , sedangkan kation intraseluler utama adalah kalium (K+). Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam tubuh.

b. Non-elektrolit
Substansi seperti glukosa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat (milligram per 100 ml atau mg/dL). Non-elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan billirubin.

Kompartemen cairan:

1. Cairan intraseluler/CIS
CIS adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraseluler, sama sekitar 25 L pada pria dewasa (70kg). Pada bayi, setengah dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraseluler.

cis dan ces

2. Cairan ekstraseluler/CES
CES adalah cairan di luar sel. Ukuran relatif dari CES menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kira ½ cairan tubuh terkandung dalam CES. Setelah usia 1 tahun, volume relatif dari CES menurun kira-kira sepertiga dari volume total.

CES dibagi menjadi:

a. Cairan interstisial (CIT)
Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam CIT.

b. Cairan intravaskular (CIV)
Cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah. Rata-rata volume darah pada dewasa sekitar 5-6 L. 3 L dari jumlah tersebut adalah plasma. Sisanya terdiri dari sel darah merah (SDM atau eritrosit) yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai buffer tubuh yang penting; sel darah putih (leukosit) ; dan trombosit.

Fungsi darah mencakup:
– Pengiriman nutrien ke jaringan
– Transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru
– Pengiriman antibodi dan leukosit ke tempat infeksi
– Transpor hormon ke tempat aksi
– Sirkulasi panas tubuh

c. Cairan transeluler (CTS)
Cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh. Contoh : cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu CTS mendekati 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak ke dalam dan ke luar ruang transeluler setiap harinya. Contoh : saluran gastrointestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per hari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan air dan zat terlarut
1. Membran
Setiap kompartemen dipisahkan oleh membran semipermeabel selektif yang memungkinkan gerakan air dan beberapa zat terlarut.
Membran semi permeabel tubuh meliputi:
a. Membran sel: memisahkan CIS dan CIT dan terdiri atas lipid dan protein.
b. Membran kapiler: menisahkan CIV dan CIT
c. Membran epitelial: memisahkan CIT dan CIV dari CTS. Contoh: dari membran epitelium mukosal dari lambung dan usus, membran sinovial dan tubulus ginjal.

2. Proses tranport
a. Difusi
Partikel bergerak dari area dengan konsentrasi tinggi ke area dengan konsentrasi rendah sepanjang gradien konsentrasi. Contoh difusi : gerakan oksigen dari alveoli paru ke darah dari kapiler pulmoner.
Substansi dapat melewati dinding sel dengan syarat:
– Partikel cukup kecil untuk melewati pori-pori protein (air, urea). Dinamakan difusi sederhana.
– Partikel larut dalam lemak (oksigen dan CO2).
– Melalui substansi pembawa: dinamakan difusi yang dipermudah. Parikel besar tak larut lemak seperti glukosa harus berdifusi ke dalam sel melalui substansi pembawanya. Glukosa akan berikatan dengan protein pembawanya untuk menjadi larut dalam lipid. Bila memasuki sel, glukosa memisahkan diri dari pembawa dan pembawa kemudian bebas untuk mepermudah difusi dari glukosa tambahan.

Faktor-faktor yang meningkatkan difusi :
– Peningkatan suhu
– Peningkatan konsentrasi partikel
– Penurunan ukuran atau berat molekul partikel
– Peningkatan area permukaan yang tersedia untuk difusi
– Penurunan jarak lintas di mana massa partikel harus berdifusi

b. Transport aktif
Substansi bergerak dari konsentrasi rendah atau sama ke konsentrasi sama atau lebih tinggi serta membutuhkan energi dinamakan trasnport aktif. Contoh zat-zat terlarut yang melewati sel dengan transpor aktif adalah kalium, hidrogen, glukosa, dan asam amino. Contoh pada tubulus ginjal tergantung pada transpor aktif untuk rearbsorbsi semua glukosa yang di filter oleh glomerolus sehingga ekskresi urine bebas glukosa. Transpor aktif adalah vital untuk mempertahankan komposisi baik CES dan CIS.

c. Filtrasi
Gerakan air dan zat terlarut dari tekanan hidrostatik tinggi ke tekanan hidrostati rendah. Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang dibuat oleh berat cairan. Filtrasi penting untuk mengatur cairan keluar dari arteri ujung kapiler.

d. Osmosis
Gerakan air melewati membran semipermeabel dari konsentrasi zat terlarut rendah ke konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Beberapa istilah yang berhubungan dengan osmosis:

– Tekanan osmotik
Jumlah tekanan hidrostatik yang diperlukan untuk menghentikan aliran osmotik air.

osmose cairan

– Tekanan onkotik
Tekanan osmotik yang dihasilkan oleh koloid (protein). Contoh albumin, menghasilkan tekanan onkotik dalam pembuluh darah dan membantu menahan air dalam ruang intravaskular.

– Diuresis osmotik
Peningkatan volume urine yang disebabkan oleh substansi seperti manitol, glukosa atau media kontras yang dikeluarkan dalam urin dan mengurangi rearpsorbsi air di ginjal.

3. Konsentrasi cairan tubuh
a. Osmolaritas
Pengukuran kemampuan larutan untuk menciptakan tekanan osmotik dan dengan demikian mempengaruhi gerakan air disebut osmolalitas. Osmolalitas adalah pengukuran yang digunakan untuk mengevaluasi serum dan urine dalam praktek klinis. Perubahan dalam osmolalitas ekstraseluler dapat mengakibatkan perubahan pada volume cairan ekstraseluler dan intraseluler:
Penurunan osmolalitas CES gerakan air dari CES ke CIS
Peningkatan osmolalitas CES gerakan air dari CIS ke CES
Air terus bergerak sampai osmolalitas dari kedua kompartemen mencapai ekuilibrium. Contoh penggunaan manitol IV pada edema serebral. Manitol meningkatkan osmolalitas CES, meningkatkan gerakan air keluar dari sel serebral, sehingga mengurangi pembengkakan serebral.

b. Tonisitas
Tonisitas adalah istilah lain dari osmolalitas efektif. Osmolalitas efektif adalah osmolalitas yang akan menyebabkan air bergerak dari satu kompartemen ke kompartemen lain, contohnya glukosa, manitol, Na+ .

– Larutan isotonik : larutan yang mempunyai osmolalitas sama efektifnya dengan cairan tubuh. Contohnya larutan NaCl 0,9% (± 280-300 mOsm/kg).

– Larutan hipotonik
Larutan yang mempunyai osmolalitas efektif lebih kecil dari cairan tubuh. Contohnya larutan NaCl 0,45%.

– Larutan hipertonik
Larutan yang mempunyai osmolalitas efektif lebih besar dari cairan tubuh. Contoh : larutan NaCl 3%.
Hipotonisitas klinis terjadi bila terdapat penigkatan abnormal pada air atau kehilangan cairan kaya natrium dengan penggantian hanya dengan air. Hipertonis klinis karena air (diabetes insipidus); kehilangan cairan tubuh (berkeringat, diare) atau peningkatan osmol efektif (hiperglikemia atau pemberian NaCl hipertonik, Natrium bikarbonat, atau manitol). Hiperosmolalitas tanpa hipertonisitas (tidak menyebabkan dehidrasi seluler) terjadi pada gagal ginjal karena retensi urea.

Referensi :
Horne.M.M, Swearingen.L.P, 2001, Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa, Edisi-2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Share Button
Komentar Anda
Mas Triyanto says:

@anas
Thanks for your comment, please enjoy to read all the posting here. You can freely and make a share to your own language upon all the content here.
Once again..thanks for your best comment

Anas Roos says:

This is an amazing, I need more to translate in spain

Post Navigation