LABORATORIUM TERHADAP KESEIMBANGAN CAIRAN, ELEKTROLIT DAN ASAM BASA

Sabtu, Maret 9th 2013. | Cairan dan Elektrolit
LABORATORIUM TERHADAP KESEIMBANGAN CAIRAN, ELEKTROLIT
DAN ASAM BASA

1. Evaluasi untuk status cairan
a. Osmolalitas serum
Nilai normal: 280-300 mOsm/kg.
Osmolalitas serum mengukur konsentrasi zat terlarut dari darah. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan osmolalitas serun:
– Kehilangan air bebas. Contoh: kehilangan air tak kasat mata.
– Diabetes insipidus.
– Kelebihan beban natrium. Contoh : kelebihan pemberian NaHCO3
– Hiperglikemia

laboratorium terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit
Faktor-faktor yang menurunkan osmolalitas serum:
– Sindrom hormon antidiuretika tak tepat (SIADH)
– Diuretika
– Insufisiensi adrenal
– Kehilangan cairan isotonik, perpindahan dengan air atau cairan hipotonik.
– Gagal ginjal, disebabkan oleh retensi kelebihan air

b. Hematokrit
Nilai normal; 40-45 % (pria); 37-47% (wanita).
Hematokrit mengukur volume (persentase) dari darah lengkap yang terdiri atas sel darah merah (SDM). Hematokrit akan meningkat pada dehidrasi dan menurun pada kelebihan hidrasi.

c. Nitrogen urea darah (BUN)
Nilai normal: 6-20 mg/dl.
Urea dihasilkan sebagai produk metabolisme protein hepatik. Ekskresinya melalui ginjal. Produksi urea terjadi pada kecepatan yang cukup mantap, jd bila ada peningkatan BUN biasanya menunjukkan reduksi pada fungsi ginjal.

Faktor-faktor yang meningkatkan BUN:
– Penurunan fungsi ginjal
– Input protein yang berlebihan
– Perdarahan GI
– Peningkatan katabolisme jaringan
– Dehidrasi

Faktor-faktor yang dapat menurunkan BUN:
– Diet rendah protein
– Penyakit hepar berat
– Ekspansi volume

d. Osmolalitas urine
Rentang fisiologinya: 50-1400 mOsm/kg; spesimen 24 jam khususnya 300-900 mOsm/kg
Osmolaritas urine mengukur konsentrasi zat terlarut dari urine.

laboratorium terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit

e. Berat jenis urine
Rentang fisiologi: 1,001 – 1,040; spesimen acak dengan masukan cairan normal sekitar 1,010- 1,020. Berat jenis urin kurang dapat dipercaya sebagai indikator konsentrasi daripada osmolalitas urine.

f. Natrium urine
Spesimen acak normal: 50-130 mEq/L.
Aplikasi klinis dari kadar natrium urin:
– Evaluasi terhadap status volume
– Diagnosa banding dari hiponatremia
– Diagnosa banding dari gagal ginjal akut

Nilai-nilai urine: hipovolemia Vs nekrosis tubuler akut:

Tes urin
Hipovolemia
Nekrosis tubuler akut
Osmolalitas urin (mOsm/kg H2O)
>350
?350
BJ urin
1,020
Menetap pada 1,010
Natrium urin
< 20
>40

2. Evaluasi keseimbangan elektrolit
Elektrolit serum normal:

Elektrolit
Konsentrasi
Na+
137-147 (mEq/L)
Cl
95-108 (mEq/L)
K+
3,5- 5,5 (mEq/L)
HCO3
22-26 (mEq/L)
Ca2+
8,5-10,5 (mg/dl)
Mg2+
1,5-2,5(mEq/L)
PO43-
1,7-2,6(mEq/L)

3. Evaluasi keseimbangan asam basa
a. Gas darah arteri (GDA)
Nilai normal:

pH
7,37 – 7,45
Pa CO2
35 -45 mm Hg
Pa O2
80-95 mm Hg
Saturasi O2
95-99%
HCO3
22-26 mEq/L

b. Kandungan CO2 total
Normal: 22-28 mEq/L.
Dengan menggunakan sampel darah vena, tes ini mengukur kandungan CO2 pada semua bentuk kimia (CO2 terlarut, bikarbonat dan asam karbonat).

c. pH urine
spesimen random : 4,6-8,0. Pada asidosis metabolik pH urin akan menurun dan pada alkalosis metabolik pH urin akan meningkat.

d. Asam laktat
Nilai arteri normal: 0,5- 1,6 mEq/L ; vena: 1,5-2,2 mEq/L.
Asam laktat adalah produk sampingan dari metabolisme anaerob glukosa. Normalnya, sejumlah kecil dari asam laktat yang dihasilkan setiap hari dengan segera di buffer oleh bikarbonat dan dihasilkan laktat. Pada penurunan terapi oksigen jaringan akan terjadi kelebihan produksi asam laktat.

4. Evaluasi lain nya yang berhubungan
a. Kreatinin
Normal: 0,6-1,5 mg/dl.
Kreatinin adalah produk sisa metabolisme yang dihasilkan oleh pemecahan kreatin otot.

b. Albumin serum
Normal: 3,5-5,5 g/dl.
Albumin adalah protein plasma kecil yang dihasilkan oleh hepar yang bekerja secara osmotik untuk membantu menahan volume intravaskular di dalam ruang vaskular.

Written by : Nur Yuliasih, S.Si.,Apt

tags: ,