PERDARAHAN ANOVULASI (ANOVULATORY BLEEDING)

Minggu, Maret 24th 2013. | Kesehatan Wanita
Perdarahan anovulasi (Anovulatory Bleeding)
Anovulatory bleeding adalah terminologi medis yang menggambarkan mengenai perdarahan endometrium uterus yang disebabkan oleh disfungsi sistem menstruasi, termasuk adanya lesi pada uterus. Anovulatory bleeding juga disebut sebagai perdarahan disfungsional atau perdarahan yang tidak teratur (irregular uterine bleeding). Perdarahan uterus abnormal hampir selalu disebabkan oleh gangguan poros hormonal hipotalamus- hipofisis – ovarium.
anovulatory bleeding

 

Epidemiologi
PCOS (polycystic ovarian syndrome) adalah penyebab paling umum pada anovulatory bleeding dimana prevalensinya sekitar 4%-8%. Bahkan PCOS merupakan hal yang sering terjadi pada kelainan endokrin pada wanita usia produktif. PCOS dapat terjadi dalam berbagai bentuk ganguan menstruasi termasuk amenorrhea, menorrhagia dan anovulatory bleeding. PCOS juga dapat disebabkan oleh adanya hormon androgen yang berlebihan yang sering ditemukan pada morfologi ovarium poli-kista dan disfungsi ovulasi. Hiperandrogen terkait dengan faktor resiko yang signifikan untuk sindrom metabolik, DM tipe-2, dislipidemia, hipertensi dan kemungkinan penyakit kardiovaskuler. Sekitar 70%  kasus disfungsi ovulasi adalah penyebab sekunder PCOS. Adapun penyebab paling sering lainnya adalah hiperprolaktinemia sekitar 10% kasus. Hipotalamic amenorrhea dikenal sebagai hipogonadotropic hipogonadism (10% kasus), kegagalan prematur ovarium (10% kasus). Penyakit tiroid juga berkontribusi pada anovulasi dan sekitar 23% kasus hipotiroid serta 21% kasus hipertiroid berkaitan dengan menstruasi yang tidak teratur.
Penyebab perdarahan anovulasi
PCOS
Obesitas
Endometriosis
Gangguan gonad
Gangguan gizi
Ketidakseimbangan hormon estrogen-progesteron
Psikologis
perimenopause
Disfungsi tiroid
Hiperprolaktinemia
Penyakit pituitary primer
Premature ovarian failure
Disfungsi hipotalamus
Penyakit kelenjar adrenal
Androgen-produksi tumor
Patofisiologi
anovulatory bleeding
Siklus menstruasi normal diatur oleh interaksi kompleks dari beberapa kelenjar endokrin reproduksi yang terdiri dari hipotalamus, hipofisa, ovarium dan endometrium. Pada fase folikuler, folikel stimulating hormone (FSH) meningkat sehingga folikel berkembang dan sebagian mematangkan diri. Kadar estrogen meningkat pada fase ini sehingga endometrium mengalami proliferasi. Meningkatnya konsentrasi estrogen mengakibatkan adanya umpan balik negatif, yaitu terjadi penekanan sekresi FSH. Meskipun FSH menurun, folikel tetap berkembang.  Konsentrasi estrogen yang meningkat justru menjadi umpan balik positif untuk LH (luteinizing hormone) sehingga terjadi lonjakan LH (LH surge) dan terjadi ovulasi.
Pada fase luteal, LH yang meningkat menyebabkan terbentuknya corpus luteum. Dimana corpus luteum mensekresikan estrogen dan progesteron, sehingga terjadi perubahan dinding endometrium (siap untuk nidasi). Apabila sel telur tidak dibuahi, maka estrogen dan progesteron menyebabkan umpan balik negatif sehingga menekan sekresi FSH dan LH. Kemudian, corpus luteummengalami degenerasi, dimana konsentrasi estrogen dan progesteron menurun. Maka terjadi spasme pembuluh darah, nekrosis lapisan fungsionalis dan diskuamasi (luruhnya lapisan fungsionalis dan timbul perdarahan / haid). Ovulasi merupakan proses pelepasan sel telur yang sudah matang dari ovarium untuk dibuahi sperma. Ketika ovulasi tidak terjadi, tidak ada sel telur yang bisa dibuahi sperma. Akibatnya, proses kehamilan juga jarang terjadi (infertilitas).
Pada siklus yang anovulasi, kadar prostaglandine dalam endometrium rendah sehingga periode haid tidak berlangsung secara efisien. Siklus anovulasi (kadar estrogen tidak diimbangi dengan kadar progesteron yang memadai) yang berulang akan menyebabkan hiperplasia atau karsinoma endometrium.
Clinical presentasi of anovulatory bleeding
·      Symptoms:
Perdarahan menstruasi yang tidak teratur, banyak dan lama.
gejala perimenopausa (hot flashes, night sweats, vaginal dryness)
·      Sign :
Acne, hirsutism, kegemukan
·      Test laboratorium:
Bila diduga PCOS sebagai penyebabnya maka perlu adanya pengecekan testosteron bebas dan total testosteron, glukosa dan lipid puasa.
Bila diduga perimenopause maka perlu pengecekan FSH.
TSH
·      Tes diagnostik lainnya:
Bila pasien diataas 35 tahun: Biopsi endometrium
Pelvic Ultrasound untuk evaluasi PCOS
Treatment
Pengobatan untuk anovulatory bleeding tergantung pada tepatnya indentifikasi penyebabnya. Pengobatan jangka pendek, perlu adanya kontrol terhadap perdarahan yang berlebihan. Adapun terapi jangka panjang adalah untuk mencegah episode perdarahan nonsiklik, mengurangi komplikasi anovulasi (osteopenia dan infertilitas) dan meningkatkan kualitas hidup.
Terapi non-farmakologi
Pilihan pengobatannya tergantung pada penyebab yang mendasarinya..
·      Penurunan berat badan.
·      Pembedahan seperti endometrial ablasi, resection dan histerectomi.
Terapi farmakologi
Intervensi Estrogen pada perdarahan akut berat diperlukan untuk stabilisasi endometrium. Setelah penggunaan estrogen pada episode perdarahan akut maka dapat diberikan terapi lanjutan untuk mencegah berulangnya acute severe bleeding episodes. Obat kontrasepsi oral dengan progestin, penekan hormon ovarium dan penekan produksi androgen adrenal dapat digunakan untuk mencegah berulangnya anovulatory bleeding. Pada wanita yang kadar androgennya meningkat (ditandai dengan hirsutism), kontrasepsi oral yang mengandung ?35 mcg etinil estradiol dapat menjadi pilihan pengobatan. Pada wanita yang kontraindikasi terhadap estrogen dapat diberikan hanya progesteron saja.
Untuk menghentikan perdarahan yang berlebihan dan pengaturan siklus haid, diberikan progestin oral dosis besar, misalnya MPA (medroksiprogesteron asetat) 10 mg/hari selama 10 hari. Atau mula-mula diberikan noretindron 5-10 mg, 4-6 kali sehari untuk 24 jam pertama untuk menghentikan perdarahan. kemudian diberi 2 kali sehari 5 mg selama 1 atau 2 minggu untuk mencegah perdarahan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah pemberian progestin dosis kecil selama beberapa hari sehingga penghentian obat akan diikuti perdarahan putus obat. Dengan cara ini perdarahan dapat dikontrol. Untuk mencegah berulangnya perdarahan disfungsional perlu diberikan progestin oral secara berkala misal noretindron 5-10 mg sehari selama 5 hari tiap bulan dimulai pada hari ke 20 sampai hari ke 25 siklus haid.
Tabel. Obat-obat yang digunakan pada gangguan menstruasi
anovulatory bleeding
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Referensi :
          Dipiro TJ, Talbert LR, Yee CG, Matzke RG, Wells GB, Posey ML, 2008, Pharmacotherapy: A Phatophysiologi Approach 7th ed, The Mc Graw-Hill Companies Inc.USA.
tags: