PENGOBATAN HIPERTENSI DENGAN OBAT DIURETIKA

Minggu, Maret 22nd 2015. | Antihipertensi, Diuretika

Pengobatan hipertensi dengan obat diuretika – Penggunaan obat-obat yang berkhasiat sebagai diuretik pada penderita hipertensi dimaksudkan agar obat diuretik bekerja dengan cara membuang kelebihan air dan natrium melalui pengeluaran urine.

antihipertensi diuretikDengan berkurangnya air dalam dalam darah menjadikan volume darah menurun sehingga pekerjaan jantung menjadi ringan. Penggunaan obat diuretik untuk penderita hipertensi merupakan pilihan pertama dan biasanya penderita mengalami banyak buang air (kencing) secara berlebihan, maka sering kali penggunaannya pada pagi hari saja.

Dalam dunia farmasi penggolongan diuretik ada tiga jenis yaitu thiazide diuretik, loop diuretik, dan pottasium-sparing diuretik.

  1. Thiazide diuretik contohnya Chlorotiazide, Chlorothalidone, Hydrochlorotiazide (HCT), Polythiazide, Indapamide, Metolazone.
  2. Loop diuretik antara lain Bumetanide, Furosemide, dan Torsemide.
  3. Pottasium-sparing diuretik: Amiloride dan Triamterene.

Golongan diuretik mulai diperkenalkan pada tahun 1950-an. Sampai sekarang obat-obat jenis ini masih digunakan untuk pengobatan hipertensi, khususnya bagi penderita lanjut usia.
Pada awalnya para dokter memberi dosis tinggi kepada penderita hipertensi, tetapi mengingat efek sampingnya yang cukup besar, sekarang diresepkan dengan dosis rendah. Pengobatan hipertensi dengan diuretik dengan dosis rendah memberi hasil yang cukup memuaskan.
Pemberian obat antihipertensi golongan diuretik dosis tinggi bisa menimbulkan beberapa efek samping seperti:

a. Hipokalemia
Kekurangan kalium dalam darah. Semua diuretik dengan ttitik kerja dibagian muka tubuli distal memperbesar ekskresi ion K dan H karena ditukarkan dengan ion Na. akibatnya adalah kandungan kalium plasma darah menurun dibawah 3,5 mmol/liter. Keadaan ini terutama dapat terjadi pada penanganan gagal jantung dengan dosis tinggi furosemida, mungkin bersama thiazida. Gejala kekurangan kalium ini bergejala kelemahan otot, kejang-kejang, obstipasi, anoreksia, kadang-kadang juga aritmia jantung tetapi gejala ini tidak selalu menjadi nyata. Thiazida yang digunakan pada hipertensi dengan dosis rendah (HCT dan klortalidon 12,5 mg perhari), hanya sedikit menurunkan kadar kalium. Oleh karena itu tidak perlu disuplesi kalium (Slow-K 600 mg), yang dahulu agak sering dilakukan kombinasinya dengan suatu zat yang hemat kalium suadah mencukupi. Pasien jantung dengan gangguan ritme atau yang di obati dengan digitalis harus dimonitor dengan seksama, karena kekurangan kalium dapat memperhebat keluhan dan meningkatkan toksisitas digoksin. Pada mereka juga d khawatirkan terjadi peningkatan resiko kematian mendadak (sudden heart death).

b. Hiperurikemia
Akibat retensi asam urat (uric acid) dapat terjadi pada semua diuretika, kecuali amilorida. Menurut perkiraan, hal ini diebabkan oleh adanya persaingan antara diuretikum dengan asam urat mengenai transpornya di tubuli. Terutama klortalidon memberikan resiko lebih tibggi untuk retensi asam urat dan serangan encok pada pasien yang peka.

c. Hiperglikemia
Dapat terjadi pada pasien diabetes, terutama pada dosis tinggi, akibat dikuranginya metabolisme glukosa berhubung sekresi insulin ditekan. Terutama thiazida terkenal menyebabkan efek ini, efek antidiabetika oral diperlemah olehnya.

d. Hiperlipidemia
Hiperlipidemia ringan dapat terjadi dengan peningkatan kadar koleterol total (juga LDL dan VLDL) dan trigliserida. Kadar kolesterol HDL yang dianggap sebagai faktor pelindung untuk PJP atau Penyakit Jantung dan Pembuluh justru diturunkan terutama oleh klortalidon. Pengecualian adalah indaparmida yang praktis tidak meningkatkan kadar lipid tersebut. Arti klinis dari efek samping ini pada penggunaan jangka panjang belum jelas.

e. Hiponatriemia
Akibat dieresis yang terlalu pesat dan kuat oleh diuretika lengkungan, kadar Na plasma dapat menurun drastis dengan akibat hiponatriemia. Geejalanya berupa gelisah, kejang otot, haus, letargi (selalu mengantuk), juga kolaps. Terutama lansia peka untuk dehidrasi, maka sebaiknya diberikan dosis permulaan rendah yang berangsur-angsur dinaikkan, atau obat diberikan secara berkala, misalnya 3-4 kali seminggu. Terutama pada furosemida dan etakrinat dapat terjadi alkalosis (berlebihan alkali dalam darah).

f. Lain-lain
Gangguan lambung usus (mual, muntah, diare), rasa letih, nyeri kepala, pusing dan jarang reaksi alergi kulit. Ototoksisitas dapat terjadi pada penggunaan furosemida/bumetamida dalam dosis tinggi.

Penggunaan diuretik dalam dosis tinggi juga tidak menunjukkan hasil yang signifikan,tetapi justru memicu encok dan diabetes. Selain itu, dapat menurunkan kadar potasium dalam darah dan meningkatkan kadar kolesterol atau lemak. Efek samping yang lain dari penggunaan diuretik yaitu berupa disfungsi (gangguan fungsi) seksual pria dan payah jantung.

Demikian sekilas info mengenai farmakologi obat anti hipertesi golongan diuretik, semoga bermanfaat bagi kita semua.

tags: ,