Obat-obat Fitofarmaka Dan Perkembangannya Di Indonesia

Kamis, Juni 16th 2016. | Farmakognosi, Fitofarmaka

Obat-obat Fitofarmaka Dan Perkembangannya di Indonesia

Perkembangan fitomarmaka dimulai dari Industri jamu yang berkembang pesat di Indonesia. Dengan kekayaan alam Indonesia yang menyimpan berbagai jenis tumbuhan obat, membuat perusahaaan farmasi semakin mengembangkan obat-obatan fitofarmaka.

obat fitofarmakaKhasiat obat fitofarmaka lebih efektif dan terpercaya karena telah memiliki dasar ilmiah yang jelas dan harus memenuhi kriteria seperti memenuhi persyaratan mutu yang berlaku, telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi, klaim khasiat harus dibuktikan berdasarkan uji klinik, aman, dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Beberapa tahapan yang harus diuji untuk obat-obatan fitofarmaka antara lain:

1. Tahap Seleksi
Untuk memilih bahan alami yang berkhasiat mengobati penyakit utama berdasar pengalaman pemakaian empiris sebelumnya serta diperkirakan dapat menjadi alternatif pengobatan untuk penyakit yang belum ada atau masih belum jelas pengobatannya.

2. Tahap Biological Screening
Tujuannya untuk menyaring ada atau tidaknya efek farmakologi yang mengarah ke khasiat terapetik dan ada tidaknya efek keracunan akut atau spektrum toksisitas dan sistem organ mana yang paling peka terhadap efek keracunan tersebut.

3. Tahap Penelitian Farmakodinamik
Untuk melihat pengaruh calon fitofarmaka terhadap masing-masing sistem biologis organ tubuh dan mengetahui mekanisme kerja yang lebih rinci dari fitofarmaka.

4. Tahap Pengujian Toksisitas
Terdiri atas toksisitas khas/khusus, toksisitas akut, dan toksisitas subkronis.

5. Tahap Pengembangan Sediaan (Formulasi)
Bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk sediaan yang memenuhi syarat mutu, keamanan, dan estetika untuk pemakaian pada manusia dengan tata laksana teknologi farmasi dalam rangka uji klinik yaitu teknologi farmasi tahap awal, pembakuan (standarisasi), dan parameter standar mutu.

6. Tahap Uji Klinik Pada Manusia
Tahap yang terpenting yang dilakukan pada empat fase yaitu fase 1 pada sukarelawan sehat, fase 2 pada kelompok pasien terbatas, fase 3 pada pasien dengan jumlah yang lebih besar dari fase 2. Untuk dapat disebut fitofarmaka, obat ini harus lulus uji klinik fase 1 (20-50 orang), fase 2 (200-300 orang), fase 3 (300-3000 orang), dan fase 4 yaitu post marketing surveillance untuk mengevaluasi semua fase tersebut.

Beberapa contoh obat fitofarmaka yang sudah beredar dan sudah mengantongi ijin BPOM antara lain:

1. Diabmeneer Nyonya Meneer – Fitofarmaka Diabetes (Kencing Manis) mengandung ekstrak momordica fructis yang membantu mengurangi konsentrasi gula darah.

2. Stimuno Dexa Medica – Fitofarmaka Modulator Imun (Imunomodulator); ekstrak Phylanthus niruri atau meniran di dalamnya berkhasiat merangsang tubuh lebih banyak memproduksi lebih banyak antibodi dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh agar bekerja optimal.

3. Tensigard Phapros – Fitofarmaka Hipertensi (Darah Tinggi); ekstrak apii herba dan ekstrak orthosiphonis berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.

4. Rheumaneer Nyonya Meneer – Fitofarmaka Rematik; mengandung ekstrak Curcumae Rhizoma yang berkhasiat melancarkan peredaran darah, menghilangkan nyeri dan kaku sendi, menghangatkan, dan menyegarkan badan.

5. X-Gra Phapros – Fitofarmaka Lemah Syahwat (Impoten Aphrodisiaka); terbuat dari ekstrak ginseng, royal jelly, ekstrak ganoderma, dan lainnya. Obat ini berkhasiat meningkatkan stamina pria dan membantu mengatasi disfungsi ereksi serta ejakulasi dini.

6. Nodiar Kimia Farma – Fitofarmaka Diare (Mencret); yang terbuat dari ekstrak apel dan rimpang kurkuma. Kandungan attapulgite dan pectin di dalamnya diklaim dapat mengabsorpsi virus, bakteri, gas, dan toksin yang terdapat dalam usus.

Semoga dengan perkembangan obat-obat fitormaka di Indonesia akan menjadikan pengobatan kita menjadi yang terbaik di dunia karena minimnya efek samping (hampir tidak ada) yang terjadi.

source

tags: , , , ,